Gelanggang Yogyakarta – Gunungkidul – Sejumlah Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) di Kabupaten Gunungkidul menghadapi tantangan berat akibat lonjakan harga pakan ternak yang tidak diimbangi kenaikan harga jual telur.
Sejumlah Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) di Kabupaten Gunungkidul kini menghadapi tantangan berat dalam menjalankan unit usaha ketahanan pangan, khususnya budi daya ayam dan bebek petelur. Kenaikan harga pakan yang tidak dibarengi dengan kenaikan harga jual telur di pasaran telah menekan margin keuntungan dan mengancam keberlanjutan operasional usaha di tingkat kalurahan.
Fenomena ini terjadi sejak awal September 2026, di mana beban biaya produksi membengkak akibat tingginya harga pakan sebagai komponen utama peternakan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode menjelang Lebaran lalu, saat harga telur masih stabil dan memberikan keuntungan yang cukup menggembirakan bagi pengelola BUMKal.
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Gunungkidul, Aris Nurkholis, menegaskan bahwa BUMKal harus segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen usaha agar tidak terjebak dalam kerugian jangka panjang. Menurutnya, pengelolaan usaha peternakan tidak boleh hanya berorientasi pada omzet penjualan, melainkan harus berbasis pada perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) yang akurat.
Aris menyampaikan arahan tersebut saat memberikan pembinaan terkait keberlanjutan usaha BUMKal di Desa Piyaman, Wonosari, Senin (7/9/2026). Ia menyarankan enam langkah strategis yang harus diambil pengelola BUMKal, mulai dari melakukan efisiensi, memperbaiki manajemen pakan, memperkuat pemasaran, mencari pemasok dengan harga lebih kompetitif, hingga melakukan penyesuaian skala usaha.
