Gelanggang Yogyakarta – Industri wewangian di Kota Yogyakarta mengalami pergeseran tren signifikan di kalangan mahasiswa, di mana penggunaan parfum kini tidak lagi sekadar pelengkap acara tertentu, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup dan sarana ekspresi diri harian atau fenomena ‘Wangi 5.0’.
Perilaku konsumen muda di kota pelajar ini menunjukkan bahwa pilihan aroma parfum bergerak fleksibel menyesuaikan suasana hati, aktivitas perkuliahan, busana, hingga ruang sosial yang dikunjungi. Senior Scent Advisor Maestro Parfum Seturan Fajri menjelaskan bahwa mahasiswa kini datang dengan referensi aktivitas, mood, karakter, atau aroma viral di media sosial.
Pada fase Wangi 5.0, masyarakat tidak lagi terpaku pada satu aroma khas atau signature scent. Eksplorasi beragam karakter aroma didukung oleh maraknya pilihan produk lokal, gerai isi ulang, kemasan kecil tester, hingga ulasan di media sosial yang memudahkan mahasiswa menyesuaikan parfum dengan anggaran mereka.
Merespons pergeseran gaya hidup tersebut, sejumlah pelaku usaha parfum lokal di Yogyakarta mulai membenahi konsep layanan. Maestro Parfum memperbarui empat gerainya di kawasan Seturan, Gejayan, dan Jalan Magelang dengan mengusung konsep eksplorasi aroma untuk memberikan ruang edukasi serta pengalaman mencoba wewangian secara interaktif.
Tumbuhnya budaya wangi di Yogyakarta ini dinilai perlu diimbangi dengan literasi produk yang memadai. Para pelaku industri dan kreator konten diharapkan dapat memberikan informasi transparan mengenai performa aroma pada kulit dan cuaca, sehingga konsumen dapat bereksplorasi secara bijak tanpa terdorong perilaku konsumtif.
